Langsung ke konten utama

Dibalik Kaca Yang Membisu

Di dinding kamar yang sunyi

Tergantung sebuah cermin
bening, dingin, dan tak pernah berbicara.
namun entah mengapa
ia selalu tahu lebih banyak
daripada siapa pun di dunia ini.

Tidakkah kau pernah bertanya
apa yang sebenarnya hidup
di balik kaca itu?

Ia tidak bisa ditembus,
tidak bisa dipeluk,
tidak bisa dilampaui.
Namun setiap kali kau berdiri di hadapannya
ia mengembalikan sesuatu
yang tak pernah bisa kau sembunyikan.

Wajahmu.

Bukan sekadar garis mata dan bibir,
bukan hanya bayangan rambut yang jatuh di dahi.
Cermin memantulkan sesuatu yang lebih dalam,
Sesuatu yang sering kau sembunyikan
dari orang lain
dan bahkan dari dirimu sendiri.

Di luar sana
kau bisa tertawa dengan wajah yang ramah,
mengucap kata yang manis,
menjadi orang yang tampak baik
di mata banyak manusia.

Namun di depan cermin
tak ada tepuk tangan,
tak ada penonton.

Hanya kau
dan wajah yang tak bisa berdusta.

Di sanalah kemunafikan menjadi telanjang.
Senyum yang dipaksakan
tampak seperti retakan tipis di kaca waktu.
Tatapan yang pura-pura tenang
terlihat seperti ombak yang menyimpan badai.

Cermin tidak pernah menghakimi.
Ia tidak berteriak,
tidak menunjuk,
tidak menuduh.

Ia hanya memantulkan.

Dan justru karena itu
ia menjadi saksi yang paling jujur.

Sebab hanya orang yang berdiri tepat di hadapannya
yang tahu
betapa berat memandang dirinya sendiri.

Cermin mengetahui semuanya....
kebaikan yang diam-diam kau lakukan,
keburukan yang kau sembunyikan rapat,
kejelekan yang tak ingin kau akui.

Namun rahasia itu
tidak pernah keluar dari kaca.

Ia tetap tinggal di sana,
dalam ruang tipis antara bayangan dan kenyataan,
tempat hanya satu orang
yang benar-benar mengenalmu.

Dirimu sendiri.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jam Tidur Gue Berantakan Lagi

 Mengapa gue merasa sedih dan tertekan ketika bangun, tetapi umumnya gue ngerasa lebih baik tentang kehidupan gue saat di malam hari...  Banyak dari jawaban yang dijelasin psikiater gue itu udah mencakup beberapa aspek yang mungkin berhasil dalam kasus gue, dan gue tau ini pasti akan menjadi agak lama, tapi gue selalu berusah untuk meluangkan waktu. Namun, perlu diingat bahwa ini mungkin bukan masalah yang kalian pernah rasain. Gue tau kalo kita sebagai manusia, juga sebagai spesies, sebagian besar adalah diurnal, tetapi sebagian dari kita enggak. Seperti diri gue ini. Dan gue mengetahuinya setelah melalui beberapa pengalaman dan konsultasi, terapi beberapa kali, beragam diagnostik, dan lebih banyak tes dan ujian daripada yang udah gue hitung dan lalui. Gue dulu ngerasa sangat seperti apa yang lo gambarkan.  Terus-menerus "lelah" secara fisik / emosional / mental hampir sepanjang hari, enggak peduli jumlah latihan fisik dan penyesuaian pola makan yang gue lakukan, tetapi ...

"Cinta Luar Biasa"

Waktu pertama kali ku lihat dirimu hadir Rasa hati ini inginkan dirimu Hati tenang mendengar suara indah menyapa Geloranya hati ini tak ku sangka Rasa ini tak tertahan Hati ini slalu untukmu Terimalah lagu ini dari orang biasa Tapi cintaku padamu luar biasa Aku tak punya bunga aku tak punya harta Yang kupunya hanyalah hati yang setia Tulus padamu Hari hari berganti kini cinta pun hadir Melihatmu memandangmu bagai bidadari Lentik indah matamu manis senyum bibirmu Hitam panjang rambutmu anggun terikat Rasa ini tak tertahan Hati ini slalu untukmu Terimalah lagu ini dari orang biasa Tapi cintaku padamu luar biasa Aku tak punya bunga aku tak punya harta Yang kupunya hanyalah hati yang setia Tulus padamu Terimalah lagu ini dari orang biasa Terimalah lagu ini dari orang biasa Tapi cintaku padamu luar biasa Aku tak punya bunga aku tak punya harta Yang kupunya hanyalah hati yang setia Yang kupunya hanyalah hati yang setia Terimalah cintaku yang luar bia...

Contoh Persaingan Etika Bisnis "Pepsi vs Coke" Yang Kurang Baik

Dua perusahaan cola kelas dunia Coca Cola dan Pepsi seakan tak pernah berhenti bertarung memperebutkan pasar di bisnis minuman ringan. Sejak dua merek tersebut ditahbiskan, masing-masing pada tahun 1886 dan 1903 antara keduanya sudah terjadi persaingan, saling sikut dan perang iklan, baik iklan cetak dan video. Mereka berambisi bisa meraih dominasi pasar minuman ringan berkarbonasi. Bisa dimaklumi kalau terkadang masalah etika sedikit terkesampingkan. Salah satu iklan pepsi pada tahun era 1980-an ada yang berjudul "Earth: Sometime in the Future". Di gambarkan seolah-olah kondisi bumi di masa depan. Ada seorang guru yang membawa murid-muridnya berjalan-jalan kesebuah situs arkeologi. Sambil berjalan-jalan, murid-murid tersebut inum pepsi. Disana mereka menemukan berbaga benda yang merupakan artifakdari masa lalu. Benda pertama adalah bola bisbol. Yang kedua adalah gitar. Nah, benda ketiga yang ditemukan tidak jelas bentuknya Karen asudah tertutup debu dan tanah. Sang guru l...