Langsung ke konten utama

Postingan

My Spiritual Needs

 Dalam waktu yang berjalan cepat gue selalu mencoba memadati ruang jiwa gue dengan pertemanan-pertemanan dari orang yang satu ke orang yang lain, dari lingkaran pertemanan yang satu ke lingkaran pertemanan yang lain, dan seterusnya. Dengan begitu, gue berharap pertemanan bisa membuat gue jadi selayaknya seorang manusia seutuhnya, yang kantung jiwanya dapat terpenuhi dari saling berkasih sayang dengan sesamanya. Kemudian, jumlah mereka terus dan terus bertambah, seiring dengan rasa bahagia yang gue punya. Namun, pada suatu ketika gue jadi terdiam, Kenapa rasa hampa itu masih ada?  Enggak bisa gue pungikirin kalo masih ada sebuah ruang kosong di jiwa yang belom terisi... Gue terus mencari cara yang lainnya, gue coba memadati ruang jiwa gue dengan pencapaian-pencapaian dan target. Gue kejar angka dan pendidikan setinggi yang gue bisa, terus gue coba buat meleburkan diri gue bersama banyak pengalaman yang memadati pikiran gue. Dengan begitu, gue masih berharap pencapaian bisa nge...

Rasa Depresi

 Hello... Menurut lo, mungkin gak sih depresi itu tersembunyi pada wajah yang berseri-seri??? Yang ceria enggak menampilkan wajah sedih?? Mungkin enggak tangis pecah di balik senyum yang merekah itu??? Mungkin gak luka bersarang di dada mereka yang kita kira bahagia????  Dulu, gue sering mikir enggak mungkin. Gue kira, depresi cuma ada pada mereka yang murung, mengunci diri di kamar, enggak mau makan (atau terus menerus makan), enggan tersenyum, bergerak lamban, enggak bisa tidur (atau terus menerus tidur), atau memilih warna-warna gelap pada pakaian yang mereka pakai. Tapi ternyata, kini enggak selamanya demikian. Enggak selamanya yang tersenyum itu benar tersenyum, yang tertawa itu benar tertawa, dan yang bahagia itu benar bahagia. Di balik semua ciri bahagia dan hidup yang sepertinya baik-baik saja itu, tanpa kita ketahui, mungkin ada hati yang sedang terluka, ada diri yang sedang berjuang menghalau pikiran-pikiran negatifnya, ada jiwa yang meronta memohon pertolongan dan k...

Hallo September, I Hate You 29... Terima Kasih Agustus !!!

 Udah tanggal 1 awal bulan aja nih.. Sebenernya bulan Agustus kemarin banyak cerita banget, banyak kejutan, banyak drama-drama yang bisa gue jadiin pelajaran untuk kedepannya.. Gue jatuh cinta, dan gue pun kehilangan sebelum gue sempat menyatakan cinta gue. Sebelum gue memiliki hatinya hihihi gapapa udah biasa kan? Cinta gak selalu ber ending bagus buat gue, makannya gue males banget yang namanya cinta-cintaan. Its bullshit men!  Gue dijauhin begitu aja tanpa gue tau apa salah gue wkwkwk padahal gue gak pernah punya niat jahat, malah gue berusaha buat selalu ada dan selalu ngelakuin yang terbaik buat orang yang gue cinta ini. Nyesel jatuh cinta??? Enggak, gue enggak pernah nyesel untuk jatuh cinta.. Tapi gue gak akan berubah untuk takut jatuh cinta(lagi), seenggaknya gue bener bisa jatuh cinta sama dia(orang yang bahkan enggak gue kenal siapa, dia yang namanya sering gue sebut dalam setiap doa dan tulisan gue disini) walaupun akhirnya yaa dia pergi entah kemana sekarang.. Gapa...

Memaafkan Diri Sendiri

 Gue selalu bertanya-tanya, dititik mana gue bisa bilang kalo gue udah mengenal diri gue sendiri dengan baik??? Pertanyaan kaya gini sebenernya sungguh menggelitik gue banget, sebab nyatanya, hampir setiap hari, selalu ada aja hal yang membuat gue kaya “dipaksa” buat berkenalan lebih dalam dengan diri gue sendiri lagi, lagi, dan lagi. Fakta ini malah ngebuat gue sendiri heran sama orang-orang yang ngerasa udah mengenal gue dengan baik, terutama kalo itu mereka katakan hanya dengan berbekal pengalaman dan ingatan dari satu atau dua kali pertemuan.. Hah, gimana bisa????  Kata orang, siapa diri kita yang sebenarnya adalah yang kita temui dan ketahui saat kita lagi sendirian, yaitu saat-saat dimana kita terlepas dari keramaian, prestasi dan pencapaian, apa kata orang, juga apapun yang lainnya yang terbiasa diketahui dunia luar. Enggak akan kita temuin sebenar-benar diri pada kedangkalan-kedangkalan semacam itu, sebab katanya, yang sebenarnya selalu ada pada kedalaman-kedalaman, y...

Lebaran Yatim

 Banyak banget hal positif yang gue dapet di kunjungan panti hari ini. Udah sebulan lebih gue gak kunjungan rutin ke panti, enggak ketemu adek-adek yang senyumnya itu bisa bikin tenang jiwa. Udah lama juga enggak bercanda, gak ngisengin ade-ade yang tingkahnya masih polos dan apa adanya. Tadi pagi seneng rasanya ketika mereka menyambut kedatangan gue bersama beberapa teman gue kesana.   "Mas gustiiiii datenggg woiii..", kata salah satu ade panti dengan semangatnya.  Duhh.. Kalo udah gini senengnya tuh gak ada 2nya, gue bener-bener ngerasa bahagia saat mereka mengingat gue. Ngerasa dianggap ada dan dinanti kehadirannya itu rasanya gimana gitu. Oiya, sebenernya gue udah janjian sama bapak dan ibu pengelolaan panti. Kalau hari ini aku dan beberapa teman akan datang kesana, sebelumnya kita udah janjian untuk bareng-bareng sekedar makan-makan bersama disana mengingat hari ini adalah lebaran ade-ade yatim. Kebetulan juga tanggal 18 Agustus kemarin aku berulang tahun, ja...

Gue Lelah

Coba aja lelah ini malah mengalahkan gue.. Enggak banyak yang tau kalo gue lagi berjuang dalam lelah. Enggak gue ceritakan ini pada ibu bapak, enggak pula gue mengabarkannya pada kotak-kotak persegi empat foto di sosial media. Dalam pikiran gue, biar aja gue ngelakuin semuanya di jalan sunyi, siapa tau nanti ibu bapak bisa langsung menikmati kabar gembiranya, dan teman-teman gue mencicip seraup hikmahnya aja. Entah gimana, guebsemacam enggak rela kalo jalan sunyi gue ini menjadi riuh oleh banyak pertanyaan, harapan, atau juga komentar-komentar dari orang lain, yang bahkan enggak sepenuhnya memahami apa yang lagi gue perjuangkan. Atau, apa mungkin sebenernya gue belum siap buat menceritakannya??? Ah, gue enggak tau hahhaa. Mungkin, nanti gue akan benar-benar menceritakannya pada orang yang sepenuhnya gue percaya. Kamu misalnya, sahabat sejiwa, semakna, dan semoga juga sesyurga... Aamiin :D Di jalan sunyi ini, banyak dinamika udah terjadi. Gue menjadi paham bahwa kata lelah dan segala ...

Kayaknya Gue Sakit

 Maaf kalo kamu bosan membaca setiap cerita yang udah gue tulis. Maaf jika kamu bosan menyimak cerita gue dan selalu dapat menebak isi didalamnya. Gue cuma berusaha mengurai perasaan gue lewat cerita-cerita itu. Gue cuma berusaha meringankan pikiran-pikiran yang berteriak teriak. Gue tau, mungkin itu semua sangat membosankan, Mungkin itu semua sangat kekanak-kanakan untuk menuliskan semua perasaan yang dirasa. Tapi gimana lagi????  Rasanya itu cara ternyaman gue buat mengobati sakit yang dirasain diri sendiri.  Mengobati????Ya, sepertinya gue sedang sakit...  Semua yang gue tuliskan disini adalah bagian dari sakit gue. Kalo enggak salah gue pernah menuliskan tentang 'kehilangan', tentang 'Aku' dan tentang siapa-siapa aja yang udah ngebuat gue jadi kaya gini. Memang enggak jelas gue ceritain semuanya. Gue enggak menyebutkan semua nama disana. Tapi jika kalian semua resapi, gue melukiskan banyak banget banget kesakitan, kekhawatiran, ketakutan dan duka mendalam di sana...

Untuk Diriku Yang Saat Ini Sedang Lelah

Hey, untuk diriku sendiri yang mungkin sedang lelah ditertawai kehidupan dunia.. Berterima kasihlah kepada Allah karena hari ini kamu masih dalam sebuah proses mencari dan menuju kebahagiaan. Berarti tandanya, Allah masih belum selesai membentuk kamu gusttt. Saat aku menghadapi berbagai proses, aku sangat sering merasa enggak kuat karena aku selalu memakai cara manusia, bukan cara Allah. Ada berapa banyak proses yang dulu aku rasa terlalu sulit dan mustahil untuk aku lewati sendirian.. Sekarang malah udah lewat juga sih..  Proses itu pasti lewat kok, namun yang terpenting adalah aku mau belajar dari proses itu. Melewati proses itu mudah kok, namun pakai respon yang manakah aku kemarin??? Pakai yang benar atau yang salah??? Untuk lari dari proses pun bisa-bisa aja kok. Tapi lari enggak pernah nyelesain apa-apa. Lari hanya menunda. Mungkin dengan lari, aku akan menjumpai jalan yang jauh lebih gampang untuk dilewati. Tapi aku enggak akan pernah sampai garis akhir. Aku ngerasa lelah ...

Level Tertinggi Mencintai Adalah Merelakan Dia Bahagia Bersama Orang Lain

Level tertinggi bullshit adalah judul kalimat diatas. Oke next... Aku lanjutkan 4 hours again  masih dimobil......  Dan sekarang jam 21.42 tanggal 24 Agustus aku baru bisa lanjutin postingannya.. Im feel so tired!!!  Judul tulisan ini adalah hal terbullshit yang pernah aku baca, aku lihat, dan aku tulis.  Karena orang-orang munafik lah yang pura-pura mengikhlaskan orang yang "Dicintainya". Termasuk aku, yep.. Aku salah satu orang munafik itu.  Saat aku berfikir dalam hidup ini siapa sih yang enggak mempunyai masalah? Aku, kamu, mereka, dia... Meskipun kita menginginkan hidup ini berjalan baik-baik aja, mulus dan tanpa masalah, toh kenyataannya jalan hidup seseorang enggak akan pernah ada yang tahu kan?? Sekalipun pribadi itu sendiri. Sekalipun itu kamu, aku. Seorang peramal sekalipun, enggak akan pernah bisa akurat melihat garis kehidupan seseorang. Kaya peristiwa kehilangan, merupakan sesuatu yang pasti, meski enggak ada satupun yang menginginkannya terjadi. En...

Dia Yang Masih Kutunggu Kabarnya

Se perti itu.  Dia tersenyum, tapi senyuman itu enggak sampai ke matanya, bahkan ditemani banyak laki-laki yang merayunya di chatting message nya, yang dia pilih untuk menemani kesepiannya...  Mengapa???  Aku enggak pernah tau, dan aku benar-benar enggak ingin menghabiskan waktu untuk mengkhawatirkan dirinya jujur aja.  Tapi otakku kini malah terus asik memikirkan pertanyaan itu. Mengapa dia lebih memilih untuk menghindariku??? Apa karena dia enggak ingin membiarkan aku masuk???  Terus kenapa dia enggak ingin aku masuk masuk kedalam kehidupannya??? Aku menyadari aku tidak tampan, aku belum baik, aku sudah tua mungkin, perbedaan umur kita terlalu jauh??? Yaa itu semua benar.. Harusnya ku sadar diri...  Aku masih berfikir terkadang mungkin karena dia adalah gadis pemalu, dan terkadang karena dia yakin akan keunggulan dirinya sendiri. Dia smart, cantik, harinya baik, polos, penuh kejujuran, dan hatinya begitu tulus dan murni...  Tapi itu bukan satu-satuny...