animasi  bergerak gif
My Widget

Entri Populer

Kamis, 28 Juli 2016

Kekecewaan Aku Padamu

Ada denyut sesak saat mendengar kabarmu sekarang, bahwa kau telah menemukan seseorang, dan bersamanya kalian saling mengikat sayang. Kau datang menanyakan kabar, seakan aku baik-baik saja setelah kehilangan. Aku terdiam, seperti yang selalu kau lakukan dulu saat aku mengungkapkan rasa padamu. Bahwa sesungguhnya aku tidak terima atas segala bahagiamu, karena aku selalu yakin aku yang paling bisa membahagiakanmu.
Namun terlambat, padanya cintamu telah tertambat.
Kau tak pernah memberikan kesempatan, menjadikanku teman cerita sudah cukup membuatmu nyaman. Sedetik saja sungguh ingin aku tetap memilikimu, walau tak selamanya, paling tidak bisa mewarnai setiap cerita. Karena kini tentangmu hanyalah perih, dan penyesalan yang terucap lirih. Isi kepalaku masih saja tentangmu, namun ketiadaanku di hatimu membuatnya pilu. Satu hal yang masih membuatku tersenyum adalah anugerah kehormatan yang kau berikan atas hancurnya segala perasaan.
Namun tersenyum, hanyalah kamuflase kesedihan dari sakit yang begitu ranum.
Ditemani kepulan penyesalan yang aku bakar dengan api kecemburuan, juga gerimis yang beberapa hari ini tak pernah absen menyempurnakan rasa miris, aku merayakan kepergianmu dengan air mata yang merintik bersamaan. Di tempat berbeda kita pun bercerita, kau dan dia berpelukan dalam ikatan kasih sayang, aku disini berpelukan dengan kesedihan. Membanting waktu ribuan kali, tak kembali. Cintamu resmi dia miliki, dengan segala ucapan selamat yang mengiringi kalian dalam ikatan ini.
Namun terserah, mimpiku tentangmu telah berubah.
Aku adalah secangkir teh yang kau lewatkan di lain meja, yang tak teraduk, menjadi dingin dalam hambar yang sempurna. Telah sering kau lupa, sering pula kau jadikan bahan bercanda, yang akhirnya kau hubungi saat tangismu mendera. Untukmu, aku lakukan semua, sebelum akhirnya menghilang ditelan diam. Mulutmu hanya berbicara tentang lain pertemuan, padahal di depanmu aku melebarkan telinga menunggu jawaban. Terkumpul kekecewaan, kau semakin tak wajar membicarakan orang lain di depan hati yang jelas-jelas mendamba kepastian.
Tak perlu kau pikirkan perasaan orang lain, terlihat jelas bahagiamu terlalu egois untuk dibagi. Aku pun tak terima jika nantinya aku hidup dengan seorang pematah janji; maka bersenang-senanglah dengan dia yang kau pilih untuk menemanimu saat ini, hingga suatu hari nanti mendengar namaku akan membuatmu terbunuh tepat di dada. Penyesalan akan menggerogoti perasaanmu, ucapan maaf akan kau teriakkan dalam setiap doa, dan tangisan akan menyelimuti setiap malammu penuh nelangsa.
Namun sia-sia, di hari itu rasaku padamu telah tiada.
Sebab aku memutuskan untuk pergi, karena ternyata hatiku terlalu mulia untuk kau tinggali. Dan bila nantinya hatimu diselimuti kerinduan, menangislah karena kau telah kulupakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar